Rokok kretek yang merupakan warisan dan budaya indonesia di kabarkan bisa mencegah penyakit AIDS. ini dikatakan oleh pihak PT.Djarum di sela-sela kunjungan pemenang lomba blog jurnalistikonlain.
menurut Pembicara dari PT.Djarum, bahwa sekarang ini di Jerman ada terapi untuk pengobatan penyakit AIDS dengan menggunakan Cengkeh.
karena menggunakan bahan pokok dari cengkeh, rokok kretek turut mencegah dari penyakit AIDS.
Anda mungkin mengatakan ini bohong besar. tapi melalui berita ini, kami menantang anda untuk membuktikan bahwa ada penderita penyakit AIDS yang merupakan perokok berat dari Rokok Kretek. untuk itu silahkan kirimkan data dari penderita penyakit AIDS ke Redaksi Cuap-Cuap-ah. Data dari penderita itu kami akan jamin kerahasiaannya.(imy)
♥♥♥BicarA CintA♥♥♥
Oleh: Karina Ratnapuri
Baca judulnya aja, nyeng dicetak tebal digarisbawahi plus font ukuran jumbo, luw smua udah pada gemetern gimana luw baca isi ‘ObRoLAn NganTUkS (NgaSaL SunTukS)’ ini. WOW… Luw padaan bakal bangkit dari kubur luw…PaaN seh!Ngga PeNtinK! nYAmpaH! GaJebO! BodO!Mendink ngga usah buang nyawa luw buwat baca nyeng beginian deh!♥ ♫FigHt fOr oUr RighT to LovE…(don’t matter- aKoN)Setiap orang bebas berbicara tentang cinta. Ngga ada nyeng ngelarang! (Sape lu?) siapa pun pasti sumringah dengar kata cinta. Dari Pejabat hebat nekat laknat ampe penjahat bejat madat sekarat, Masing-masing individu //yang waras atopun yang mengaku setengah gila// punya persepsi sendiri tentang arti cinta. Kalo mau dikumpulin, jumlah definisi cinta sama dengan jumlah penduduk bumi. Berapa lapis? Ratusan! Lebih! (mengutip sebuah iklan wafer berbagai rasa). Coz tiap orang pasti beda dalam memaknai cinta. Cinta, love, affection, mahabbah, ai, … //de el el/ de es be/ es be ye// Kata cinta sendiri dalam KBBI berarti(…buat pe-er!)Uniknya, senada dengan sang definisi, juga ngga semua orang punya jalinan cerita cinta yang sama. Ibarat wajah manusia. Meski sama sama punya 2 mata, 1 hidung en 1 mulut di mukanya, tetep aja ngga ada orang yang mukanya sama. Bahkan yang kembar identik sekalipun. =>Sepertinya Tuhan ngga keabisan ide untuk membentuk wajah makhluk-makhlukNya nyeng diniscayakan sebagai manusia (supaye ngga ketuker kali ye!)atau idealnya agar manusia2 tersebut merasa dirinya unik dan spesial.(= Imbasnya, muncul berbagai slogan aneh dari kisah cinta yang beda-beda itu. Ada nyeng cinta ditolak dukun bertindak, habis manis sepah dibuang, kutunggu jandamu, bila ku mati kau juga mati, sampe Oow..kamu ketauan pacaran lagi! Whatever!!Bolehlah di-compare (tarik maang!!) kisah cinta tragis hitam beracun berdarah-darah merah mengharu biru dalam Romeo And Juliet ala Shakespeare (menurut the gossip-ers a.k.a tukang sirikin org, aslinya doi orang Arab bernama SyeikhZubair. Berhubung bule susah ngomongnya jadi, yaa gitu deh!)dengan dongeng yang menjanjikan happy ending ever after forever never say never ala Cinderella. Keduanya punya alur nyeng berbeda meski konflik en pelik yang disajikan di dalamnya sedikit banyak , kurang lebih mirip, beda beda tipis, serupa tapi ngga sama. Kesan akhir yang hadir dari dua cerita beda dunia-akhirat itu juga ngga sama. Tapi tujuan akhir or final destination dari cerita cinta semuanya sama, kebahagiaan. <<cieh..>> Mereka sama sama ngerasa bakal bahagia kalo bisa menghabiskan sisa hidup mereka bersama orang nyeng mereka kasihi..(ya iyalah!)So, they do everything! Even sacrifice their only life en soul for something called L.O.V.E. Sadly, No one know if its wORth or wORst.. But truly, Ngga ada makhluk di muka bumi ini (sblum bumi buang muka!) yang berharap hidupnya menderita walau cuma sesaat. Aneh bin “`ajiib” kalo ada orang nyeng hobinya menderita berkepanjangan tanpa berkesudahan sepanjang hayat masih dikandung badan (♫kita tetap setia! tetap setia! membela Negara kita! Meski reOg nyaris dijambRet MalaYsia♪). Kalo bisa mah maunya hepi terus! Ngga peduli panas terik, hujan badai, mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra,, Tul khan?Buat nyeng sering dugem ato nyeng kerjaannye Cuma buka-buka adamandeve.com (ada kagak yak?) sekali-kali dateng deh ke toko buku! Liat di deretan rak novel. Luw bakal nemuin Lebih dari 90% isinya novel tentang cinta. Ngga peduli terbitan lokal ato interlokal atawa intermilan, semua cerita tentang cerita cinta. Ada yang MANIS, TRAGIS, NARSIS sampe NAJIS!! Entah cinta untuk siapa!Seperti badan gw nyeng makin lama makin berkembang,☻ cinta juga mengalami perkembangan pesat (kalo ngga mau dibilang sesat!). Kalo Dulu ada cinta Siti Nurbaya, cinta Ramadhan dan Ramona, Cinta Dalam Sepotong Roti, Cintaku di Kampus Biru, cinta Kejar Daku Kau kutangkap, skarang cinta tampil dengan lebih variatif (??) lagi. Mulai dari cinta eSeMPe (Senandung Masa Puber), Cinta SMU nyeng Cuma mengexploit-asu/i coro-coro putih merah putih biru putih abu-abu dengan scene cup cup mmuach mmuach mulu. Trus beralih ke cinta Fitri, cinta Indah, cinta Bunga, Intan, Kasih, Cahaya, Jelita, Azizah, Chelsea, Diva, Sholehah,,(FiUhh!) semuanya mengusung figur perempuan super cantik super baik super santun super tegar tapi super miskin tapi tetep super disukai pria tampan lagi kaya mana aja. Plus super syuting kejar tayang demi menduduki rating paling wahid (bukan gus dur loh!) di hati berjuta pemuja telenovela/ sinEtroNeLa tanpa akhir khas EnDonEsA =→ negara nyeng mayoritas penduduknya tidak bisa menyebut nama negaranya dengan benar. Hidup
Oiya, last but not least,, ada lagi cinta nyeng paling mutakhir up2date en paling booming,,CINTA LAURA (bacanya pake logat BULE! Sedikit menjulurkan lidah & “ujan lokal “ secukupnya!!)Duh, cinta!Cape deh!♥♥Mo NimbrUng? yuUK maRi….. Karina RatnapuriAlumni Universitas IndonesiaSekarang Menjabat Sekretaris Ranting Partai Amanat Nasional Cempaka Putih Barat
Penggusuran
Oleh :Imam Yunianto
Penggusuran hari ini (9/2/2008 red) yang dilakukan pemerintah menggunakan Satpol Pamong Praja dan Polisi di daerah Rawasari memang sangat membuat iba. Disana terdapat banyak rumah baik permanent maupun semi permanent. Dan juga terdapat pedangang keramik yang mungkin menjadi ciri khas dari Rawasari yang dikenal dengan keramiknya.
Ketua Rt.16 Rw 09 kelurahan Rawasari ini mengungkapkan bahwa dia bersama warga yang lainnya akan terus bertahan ditempat tersebut. Alasannya bahwa walaupun daerah itu masuk jalur hijau tetapi warga kecamatan Cempaka Putih ini sudah menempati lahan tersebut selama puluhan tahun. Bahkan seluruh warga tersebut sudah memiliki Kartu Keluarga dan KTP yang berarti penghuni lahan tersebut sudah sepengetahuan pemerintah, terutama keluarahan yang mengeluarkan KTP. Dan juga setiap tahunnya warga membayar retrubusi tempat tinggal.
Dilain pihak pemerintah berdalih bahwa kawasan yang digusur adalah jalur hijau. Dimana setelah penggusuran akan dikembalikan fungsinya sebagai taman
Saya tidak bermaksud untuk mencari siapa yang salah, pemerintah atau warga. Namun demikian penggusuran selalu menimbulkan duka bagi orang yang tergusur. Kenapa kalau memang wilayah tersebut termasuk lahan hijau dan tidak boleh ditempati, warga dibiarkan untuk membangun rumah dilahan tersebut. Bahkan sampai puluhan tahun.
Ingatan saya kembali kemasa kecil dahulu. Kebetulan saya dari lahir sudah didaerah Rawasari. Jadi sedikit banyaknya saya tahu perkembangan dari daerah Rawasari ini. Termasuk daerah yang digusur.Dahulu daerah yang digusur tersebut adalah tanah kosong yang kalau gak salah diaerah tersebut sudah ada plang yang bertuliskan dilarang membangun didaerah tersebut. Namun Karena daerah tersebut dekat jalan besar yang dikenal dengan jalan ByPass maka mengundang keinginan orang untuk memakai tanah tersebut. Diawali oleh pedagang rotan, dengan pikulan. Lama-lama pedagang rotan semakin banyak dan membuat bangunan semi permanent. Dengan berdirinya bangunan semi permanent, juga membuat tertarik pedangan keramik hingga membuat daerah Rawasari dikenal dengan Keramiknya. Melihat bangunan-bangunan tersebut yang tidak ditertibkan oleh pemerintah setempat, bahkan bangunan tersebut dapat sambungan listrik, membuat warga yang dekat dengan daerah tersebut juga ikut membangun didaerah tersebut untuk membangun rumah. Bahkan ibu saya sendiri pernah ditawari oleh warga tersebut untuk menggarap lahan kosong tersebut, untuk membangun rumah. Namun ibu saya tidak berani, “takut digusur “ ungkapnya. Namun selama puluhan tahun ternyata tempat tersebut tidak digusur. “Nyesal juga nih gak ngebangun, sekarang tempat tersebut sudah ramai “ gunggam ibuku. “Mana harganya mahal lagi “ ujar ibuku lagi.
Namun sekarang akhirnya tempat itu digusur juga. Dan penggusuran tersebut melibatkan banyak petugas. Bahkan katanya 1500 personil dikerahkan untuk menghalau warga yang bertahan ditempat tersebut.
Kejadian di Rawasari ini, mungkin bukan yang pertama kalinya dan bukan terakhir kalinya, karena banyak daerah yang seharusnya jadi fasilitas umum dibangun bangunan semi permanent dan permanent. Apakah dengan dalih daerah ini fasilitas umum penggusuran ini dibenarkan?. Atau dengan mengatasnamakan kemanusian setiap warga boleh dibiarkan menempati fasilitas umum. Yang jelas saya lebih suka dengan istilah mencegah lebih baik dari mengobati. Maksudnya sebelum terjadi pemukiman fasilitas umum oleh banyak warga hingga bertahun tahun, lebih baik ditindak tegas ketika masih sedikit orang yang mencoba-coba memakai fasilitas umum untuk kepentingan peribadinya. Lebih cepat lebih baik. Jangan membiarkan privatisasi fasilitas umum oleh siapapun. Apalagi pemerintah setempat mengambil keuntungan dari privatisasi fasilitas umum tersebut. Mungkin dengan begitu tidak ada lagi tangis akibat penggusuran.
Imam Yunianto
Ketua Prescab KOMTI/KMMT
Sekretaris Cabang Partai Amanat Nasional Cempaka Putih –
Mari Mengutamakan Kebenaran
Oleh ENDANG SURYADINATA
Tanggal 9 Februari merupakan Hari Pers Nasional. Tidak semua awak pers mau memperingati karena sebagian lebih suka memperingati Hari Pers International tanggal 3 Mei.
Hari Pers Nasional (HPN) di anggap produk Orba karena didasarkan pada keppres No 5/1985 tanggal 23 Januari 1985. Dalam konsiderans keppres diantaranya disebutkan “pers nasional
Pemilihan 9 Februari sebagai HPN sebenarnya tak lepas dari peristiwa sejarah karena pada 9 Februari 1946 merupakan hari terbentuknya organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Solo. Wartawan Manai Sophian pernah berkisah bagaimana ia harus dating dari Makasar dan selama berhari hari harus mempertaruhkan nyawa melawan ombak besar dalam mengarungi laut untuk sampai Surabaya, lalu menghadiri Kongres Pertama PWI di Solo pada 9 Februari 1946.
Jadi, awak pers seharusnya juga mengapresiasi Hari Pers Nasioal. Tentu saja apresiasi itu bukan berati harus menyepelekan Hari Pers International. Karena, bagaimanapun awak pers kita merupakan pers international. Munculnya beragam organisasi pers/wartawan pascareformasi juga patut disyukuri, tetapi keberadaan PWI sebagai organisasi pertama layak dihormati, setidaknya dari sisi sejarah. Jadi, sikap mikul dhuwur mendhem jero seharusnya bukan untuk mendiang Soeharto saja., tetapi juga layak dutujukan kepada para wartawan sepuh.
Rekontrusi
Terkait mantan presiden soeharto dan relasinya dengan pers national, banyak kalangan menilai pers kita sudah berlebihan dalam memberitakan sakit dan mangkatnya Soeharto, Januari 2008 silam.
Sebenarnya kerja seorang awak pers, wartawan dalam beberapa hal, mirip sejarawan.
Ini tampak pada pemberitaan yang merekontruksi, bahkan memistifikasi Soeharto seolah sosok innocent, tanpa cela. Padahal sebuah lembaga pembelaan pers di
Namun, aneh, seperti telah disebutkan awak pers justru melakukan glorifikasi terhadap Pak Harto. Seolah public hanya di minta memaklumi Pak Harto dan tidak melihat atau membaca informasi yang terkait sisi buruk, mulai dari pelanggaran HAM, pengengkangan kebebasan pers, hingga praktik KKN
Menjaga obyektifitas
Sebaliknya awak pers tidak terjebak membuat rekontruksi berlebihan yang mengingkari prinsip kebenaran. Memang sejarah sendiri merupakan proses rekontruksi masa lalu secara ilmiah sebagai bagian dari upaya untuk menyingkap fakta yang sebenarnya. Namun, saat pengungkapan itu dipandang sebagai cara atau jalan untuk menunjukan sikap pro atau kontra terhadap Soeharto, rekontruksi seperti itu tidak bernilai historis sama sekali. Dalam konteks inilah sesungguhnya kredibilitas wartawan dipertaruhkan.
Dengan demikian, obyektifitas harus dijaga, tidak menambahi atau mengurangi. Sikap berlebihan atau mengurangi peran seorang tokoh jelas hanya melanjutkan kebiasaan bangsa ini untuk memanipulasi sejarah.
Seperti diketahui, selama 32 tahun berkuasa, Pak Harto membuat sejarah sesuai dengan keinginannya. Sejarah, termasuk para sejarawan harus melayani kekuasaannya. Misalnya sejarawan Taufik Abdullah yang integritas keilmuannya sudah teruji mengakui, peristiwa sejarah yang melibatkan mantan presiden Soeharto, termasuk peristiwa G30S, begitu sensitive.
Tidak heran, seperti diberitakan pers kita, pasca lengsernya Pak Harto pada 21 Mei 1998, bermunculan aneka penulisan sejarah untuk melawan sejarah yang ditulis Orde Bar, semisal berbagai buku sejarah yang ditulis dari sudut pandang korban.
Sementara itu, akibat penulisan sejarah ala Orba, orang banyak, khususnya orang awam, menjadi bingung melihat ada beragam versi tentang sebuah peristiwa sejarah. Kebingunan itu mendorong sebagian besar dari kita akhirnya membenci studi sejarah. Pembakaran buku-buku sejarah yang tidak sesuai selera penguasa masih terjadi hingga sekarang. Padahal, untuk meluruskan sejarah, bukan dengan cara membakar, tetapi harusnya dengan menulis buku baru.
Akhirnya UU No. 40/1999 tentang Pers diantaranya menyebutkan fungsi pers adalah melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan saran-saran yang berkaitan dengan kepentingan umum serta memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Jadi, untuk para awak pers, mari kita tidak menomor duakan kebenaran.
ENDANG SURYADINATA
Peminat Sejarah, Alumnus
Eramus Universiteit
Di sadur dari kompas 9/2/2008
PERS POCO-POCO
Oleh EFENDI GAZALI
Peringatan Hari Pers Nasional 2008 mungkin akan diwarnai ucapan apresiasi serta terima kasih untuk (Alm) Jenderal Besar Soeharto, dengan alas an praktis kedekatan PWI dan Soeharto dimasa jayanya. Padahal, yang lebih diperlukan –bagaimana mendefinisikan situasi pers di era post-journalism, juga post-Soeharto.
Sajian pers seputar sakit, wafat, dan pemakaman Soeharto seharusnya menjadi bahan studi penting dan langka bagi pemerhati post-journalism. Dengan begitu perdebatan seputar glorifikasi dan berlebihannya pelaporan Soeharto, pada artikel ini berusaha dikembalikan ketatanan teoritik untuk mendefinisikan dimana pers dan masyarakat kita sedang berada, lalu bagaimana menatap kedepan.
Setidaknya ada empat tindakan untuk memeriksa situasi khas post-journalism.
Pertama menganalisis asumsi dan proses kontruksi pesan, mencakup ritme, gramatika dan format.
Kedua memeriksa fundamental otonomi dan relevansi dari klaim-klaim kebenaran, etika dan pada ujungnya pelatihan jurnalistik yang seharusnya menjadi referensi pada rutinitas media.
Ketiga, terkait komunikasi politik, Altheide menganjurkan pemeriksaan guna melihat bagaimana praktik pers cenderung tidak (lagi) tumbuh dari sebuah profesi jurnalis independent, tetapi lebih mencerminkan pertumbuhan jaringan budaya media yang mempromosikan produk, informasi dan konsesus kultural tertentu.
Dari ketiga pemeriksaan ini, selain mengakui pengaruh kuat jebakan post-journalism atas insan pers, public bisa secara sah (ilmiah, meski relatif praktis) mengelompokan institusi dan laporan pers tentang Soeharto. Kita cermati ada pers yang menyebut “Pak Harto”, tetapi tidak memakai “Pak SBY” jika mengacu presiden.
Kontrol Informasi
Tindakan keempat lebih kearah kontrol (social) informasi langsung atau tidak, sebagai akibat post-journalsm terhadap apa yang dirasakan masyarakat dalam lingkungan (ekologi) komunikasinya. Mari kita lihat beberapa peluang dampaknya.
Pertama, masyarakat kita dalam tingkatan berbeda-beda mengindap apa yang secara popular disebut split personality. Bagaimana tidak, masyarakat yang –dalam laporan pers – pada tahun 1998 terlihat tumpah ruah, akhirnya sepakat pada satu tujuan “Turunkan Soerharto!” tiba-tiba terlihat (lagi-lagi melalui laporan media) amat sangat dan memuji Soeharto.
Kedua, insan pers yang tentunya merupakan bagian dari gerakan 1998 – baik yang aktif maupun terpaksa atau sekedar ikut arus – yang sepanjang era Reformasi menyatakan berbagai kritik serta catatan negative tentang pemerintahan Soeharto, tiba-tiba seperti terlarut dalam glorifikasi itu! Padahal, setelah dijatuhkan sampai ujung hayatnya, Soeharto sendiri relative tidak melakukan hal signifikan untuk bangsa atau perbaikan situasi pers.
Apa yang terjadi pada era reformasi mungkin membuat rakyat kecil kesal dengan pemerintah, marah terhadap keadaan riil ekonomi dan lainnya, dalam logika media untuk komunikasi politik, tidak boleh menafikan fakta ketidak logisan yang menjadikan masyarakat dan insane pers seperti mengidap split personality.
Karena itu, berlaku dua tuntutan untuk pers pada kondisi mutakhir seperti ini.
Pertama, jika pers bisa berperan menjatuhkan sebuah rezim, kini pun pers mestinya bisa membantu mendesakan percepatan perbaikan sector atau praktik yang akan terus membuat rakyat berpikir reformasi ini telah gagal dan kembali merindukan era pemerintahan otoriter.
Kedua, pers harus lebih ngotot mengedepankan framing, bagaimana seharusnya membaca sebuah pemerintahan yang otoriter dan gagal pada paruh kedua. Kita sering membaca laporan; Keluarga Berencana adalah salah satu cerita sukses karya Soeharto; jika Soeharto tidak sukse dengan Keluarga Berencana, jumlah penduduk akan meledak. Begitu pula, jalan tol (missal 10); tapi framing lengkap harus dilanjutkan dengan pernyataan; jika pemerintahaannya bersih dari korupsi dengan kroni-kroninya, mestinya jumlah jalan tol yang berhasil terbangun bisa mencapai, missal 200!
Menatap ke depan
Mungkinkah pers kita mampu memenuhi tantangan ini kedepan ditengah era post-journalism yang kian diwarnai kolom-kolom kecil, laporan –laporan yang anti proses dan pengurangan budget pelatihan untuk jurnaslis? Saya meragukan. Sebagai salah satu juri Anugerah Adiwarta Sampoerna, saya mencatat peserta kompetisi tahun kedua meningkat signifikan dalam jumlah, tetapi relatif belum demikian disisi kualitas. Relatif sulit menemukan karya dalam kategori hard news yang tidak tercampur unsur-unsur feature seperti opini jurnalis.
Pada tataran empirik, saya mengalami sendiri disaat membantu advokasi kasus Jarwo Kwat (Sujarwo) yang dilaporkan oleh Alex ke Polresto Tangerang. Dalam pernyataan pers dan wawancara berkali-kali dijelaskan, Sujarwo adalah coordinator pengisi acara, sedangkan yang membuka cek kosong untuk membayar artis adalah panitia bernama Andar Jaya. Tetapi, dalam cukup banyak laporan pers dimunculkan Sujarwo-lah yang memberitakan Alex yang membuka cek kosong!
Kasus Jarwo Kwat, yang saya sebut “DiJarwokan” (dari korban diubah jadi tersangka, perkara perdata dipaksakan jadi pidana), membuat saya berangsur tidak yakin dengan tingkat kebebasan berekspresi dinegara ini. Mungkin saya boleh disebut subyektif karena dekat dengan Sujarwo, tetapi pasti tidak nyaman melihat pemerintah yang masih diberi rating tinggi oleh rakyat dalam penegakan hokum ternyata diam saja terhadap penzaliman melalui proses penegakan hokum pada kasus yang menyita perhatian public(The Jakarta Post 30/1/2008, Where is intervensium When We Need it Most?).
Semoga Hari Pers Nasional bisa untuk mendefinisikan situasi pers yang cenderung mendorong kita menuju split personality sehingga tidak terjebak seremoni tahunan yang meriah bak tari poco-poco; padahal kita hanya berputar-putar dalam era post-journalism dan post-Soeharto tanpa pers yang mencerahkan.
EFFENDI GAZALI
Coordinator Program Magister Komunikasi Politik UI
(disadur dari Kompas 9/2/2008)
Buah dari Pendidikan Politik
Oleh : Safrudin
Dari pengertian tauhid sosialnya prof. Dr HM Amien Rais MA telah merumuskan konsepsi high politik dengan rumusan sebagai berikut.
Pertama, setiap jabatan politik merupakan amanah dari masyarakat, yang harus di pelihara sebaik-baiknya. Amanah itu tidak boleh di salah gunakan, misalnya untuk memperkaya diri sendiri atau mengutungkan golonggan saja dan menelantarkan kepaentiangn umum.
Kekuasaan harus di pandang sebagai nikmat yang dikaruniakan oleh Allah untuk mengayomi masyarakat, menegakan keadilan, dan memelihara orde atau tertib social yang egalitarian. Kekuasaan betapapun kecilnya, harus dimanfaatkan untuk membangun kesejahteraan bersama, sesuai dengan amanah yang telah diberikan oleh masyarakat luas.
Kedua, setiap jabatan politik mengandung pertanggungan jawab (mas’ulliyah, acciountabulity), sebagaimana diajarkan Nabi, setiap orang pada dasarnya pemimpin yang harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya atas tugas-tugasnya. “Kesadaran akan tanggung jawab ini bukan hanya terbatas dihadapan institusi atau kelembagaan yang bersangkutan, melainkan juga dihadapan Allah, yakni Mahkamah yang paling adil kelak di akhirat – tanggung jawab inilah yang justru paling penting–.
Ketiga, kegiatan politik harus dikaitkann secara ketat dengan prinsip ukhuwah, yakni persamaan diantara ummat manusia. Dalam arti luas, ukhuwah melampaui batas etnik, rasial, agama, latar belakang social, keturuanan dan sebagainya.
Kegiatan politik kualitas tinggis akan menghindari
Dari rumusan tersebut dapat disimpulkan bahwa kehidupan bermasyarakat dan bernegara merupakan kebutuhan asasi bagi umat manusia, dimanapun dengan kehidupan bermasarakat ini, umat manusia dapat menjalani kehidupannya dengan saling tolong- menolong. Tangan yang diatas membantu yang dibawah, yang kuat membantu yang lemah, pemimpin membimbing bawahannya, penguasa melindungi rakyat dan seterusnya. Walhasil, dalam kehidupan bermasyarakat, praktek saling Bantu antar sesame manusia dapat terwujud, untuk secara bersama sama menuju kehidupan sejahtera yang menjadi idaman.
Rumusan High Politik yang waktu itu diterjemahkan sebagai “Politik kualitas tinggi” merupakan upaya mengikis habis praktek-praktek moral yang tidak terpuji yang menjadikan kehidupan bermasyarakat ini tidak sebagaimana yang diharapkan. Ada praktek perebutan kekuasaan, penindasan terhadap rakyat, persaingan antar para pimpinan, konflik horizontal dan lain sebagainya yang menjadikan institusi social berubah menjadi “Arena pertatungan sengit” segelintir para penguasa dengan vested intersesnya , bukan lahan untuk menanamkan kebajikan dan “kendaraan”yang mengantarkan ummat manusia menuju kehidupan ideal yang dicita-citakan, di samping itu juga iklim kepartaian menjadi fakator yang melahirkan pemalsuan kehidupan politik dan tiadanya praktek politik yang matang merupakan suatu hal yang menghalangi mereka dari hadirnya hadirnya pimpinan politik yang berkualitas. Demikian ini, karena kompetensi politik sampai saat ini tidak didasarkan atas pandangan yang matang dan pemikiran politik yang bernilai, akan tetapi semata atas dasar ambisi popularitas.
Karena fenomena yang demikian, praktek politik para penguasa menjadi tema yang tidak pernah habis-habisnya dibicarakan. Tidak saja oleh para pelakunya, namun melibatkan juga seluruh lapisan masyarakat. Dalam tatanan diskusi ilmiah, politik sendiri dipersepsikan secara beragam oleh para pakar, ada sekelompok pakar yang memaknai politik sebagai aktifitas yang khusus berhubungan dengan kekuatan dan kekuasaan, jauh lebih menonjol disbanding usaha secara serius untuk mengurus rakyat yang telah mengamanahkan kepemimpinannya kepada mereka. Pada Negara maju, praktek seperti ini relatif lebih terkendali, karena mayoritas dengan basis pendidikan dan kehidupannya yang relatif tinggi sehingga kesewenang-wenangan penguasa bias ditekan oleh mereka secara bersama-sama. Berbeda dengan Negara terbelakang atau berkembang, yang rakyatnya masih berkutat dengan persoalan kebutuhan primer kehidupannya, ditambah degan tingkat pendidikan yang relatif rendah, praktek-praktek penyelewengan kekuasaan masih sangat rentan terjadi. Itu disebabkan rakyat. –belum—berpartisipasi secara aktif yang dalam kehidupan politik Negara, sehingga ontrolpun belum memadai
Dalam konteks Negara kita, kita sungguh tengah berhadapan dengan realitas sosio-politik yang sangat berat. Penindasan kekuasaan yang telah berlangsung begitu lama telah memadukan gairah sebagian masyarakat untuk bepartisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, disisi lain, menimbulkan kekecewaan dan kemarahan yang terpendam pada sebagian masyarakat yang pada gilirannya menyimpan bom waktu. Tumbangnya kekuasaan yang represif yang berganti dengan iklim reformasi, berkat desakan rakyat yang tak terbendung, seperti jebolnya saluran air tidak cukup mampu menampungnya. Tentu hal ini membawa implikasi yang sangat berat. Arus yang tak terkendali dan demikian kuat tentu tidak mungkin dibiarkan saja, ia butuh penyaluran. Dengan sisa-sisa instrument kekuasaan yang masih ada, telah coba diakomodasikan arus deras itu, dengan membiarkan mereka membuat berbagai saluran itu, dalam bentuk partai-partai pun dengan kualifikasi yang jauh dari memadai, sekedar menyalurkan “dendam” atau melepaskan euphoria politiknya. Pada kenyataannya, warna dan
Pengertian pendidikan politik
Pendidikan politik adalah aktifitas yang bertujuan untuk membentuk dan menumbuhkan orientasi-orientasi poltik pada individu. Ia meliputi keyakinan konsep yang memiliki muatan politis, meliputi juga loyalitas dan perasaan politik, serta pengetahuan dan wawasan politik yang menyebabkan seseorang memiliki kesadaran terhadap persoalan politik dan sikap politik. Disamping itu, ia bertujuan agar setiap individu mampu memberikan partisipasi politik yang aktif di masyarakatnya. Pendidikan politik merupakan aktifitas yang terus berlanjut sepanjang hidup manusia dan itu tidak mungkin terwujud secara utuh kecuali dalam sebuah masyarakat yang bebas.
Dengan demikian pendidikan politik memiliki tiga tujua : membentuk kepribadian politik, kesadara politik, dan parsisipasi politik. Pembentukan kepribadian politik dilakukan melalui metode tak langsung, yaitu pelatihan dan sosialisasi, serta metode langsung berupa pengajaran politik dan sejenisnya. Untuk menumbuhkan kesadaran politik ditempuh dua metode : dialog dan pengajaran instruktif. Adapun partisispasi politik, ia terwujud dengan keikutsertaaan individu-individu – secara sukarela—dalam kehidupan politik masyarakatnya.
Pendidikan politik dalam masyarakat manapun mempunyai institusi dan perangkat yang menopangnya. Yang paling mendasar adalah keluarga, sekolah, partai-partai politik dan berbagai macam media penerangan. Pendidikan politik juga memiliki dasar dasar ideologis, sosisal dan politik . bertolak dari situlah tujuan-tujuannya dirumuskan.
Urgensi Pendidikan Politik
Jika yang dimaksud dengan “Pendidikan” adalah proses menumbuhkan sisi-sisi kepribadian manusia secara seimbang dan integral, maka “Pendidikan Politik” dapat dikategorikan sebagai dimensi pendidikan, dalam konteks bahwa manusia adalah makhluk politik . sebagaimana halnya bahwa pendidikan mempunyai fungsi-fungsi pemikiran moral, dan ekonomi, maka pendidikan politik juga mempunyai fungsi politik yang akan direalisasikan oleh lembaga-lembaga pendidikan.
Pendidikan politik itulah yang akan menyiapkan anak bangsa untuk mengeluti persoalan social dalam
Pendidikan politik merupakan kebutuhan darurat bagi masyarakat, karena berbagai factor yang saling mempengaruhi, dengan demikian pendidikan politiklah yang dapat membentuk perasaan sebagai warga Negara yang benar , membangun individu dengan sifat-sifat yang seharusnya, lalu mengkristalkannya sehingga menjadi nasionalisme yang sebenarnya. Ialah yang akan menumbuhkan perasaan untuk senantiasa barafiliasi, bertanggung jawab dan berbangga akan jati diri bangsa. Tuntunan ini demikian mendesak dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita, mengingat bahwa penumbuhan perasaan seperti itu menjadikan seorang warga Negara serius mengetahui hak dan kewajibannya, serta berusaha memahami berbagai problematika masyarakat.
Target Pendidikan Politik
Jika Pendidikan Politik adalah buah dari dialog bebas dan Praktek demokrasi yang benar, maka pendidikan politik seperti yang diharapkan itu tidak akan terwujud pada partai-partai dimana praktek politik telah berubah menjandi praktek Demagogi (Penghasutan Massal) emosi dan berbagai hubungan pribadi disatu sisi dan pengokohan diktatorisme disisi lain.
Karenanya jelaslah sudah bahwa pendidikan politik bertujuan untuk membentuk dan menumbuhkan kepribadian politik dan kesadaran politik. Sebagaimana juga bertujuan untuk membentuk kemampuaan dalam berpartisipasi politik pada individu, agar individu itu menjadi partisipan politik dalam bentuk yang positif, dengan kata lain target pendidikan yang ingin dicapai dari pendidikan politik yakni: kepribadian politik, perasaan poltik, kesadaran politik dan partisipasi politik, sungguh merupakan target yang mulia. Jika hal-hal ini bisa terbentuk dalam jiwa setiap warga masyarakat yang ditegakan dengan pilar-pilar ideologi, spiritual, moral dan intelektual sungguh bangsa ini dan bangsa manapun didunia akan menjadi bangsa yang berkarakter dan berwibawa sehingga dapat mengantarkan masyarakat menuju kedamaian sejati.
Penutup/Kesimpulan
Istilah “Pendidikan Politik” memang telah lama menjadi wacana didunia elit politik, Pendidikan politik masyarakat senantiasa menjadi amanat yang dipikulkan di pundak para politisi, oleh organisasi partainya. Namun pada tatanan realitas mereka lebih sering disibukan dengan persaingan-persaingan , intrik-intrik, dan mobilisasi
Oleh : Safrudin Ketua Cabang Partai Amanat Nasional Cempaka Putih
Hambatan terbesar – Kekuatan
Hari terbaik – Hari ini
Hal termudah untuk dilakukan — Mencari kesalahan
Hal yang paling tidak berguna – Kesombongan
Kesalahan terbesar – Menyerah
Batu sandungan terbesar – Egoisme
Kesenangan terbesar – Pekerjaan yang terlaksana dan sukses
Orang yang paling tidak di sukai – Orang yang selalu mengeluh
Kebangkrutan yang paling buruk – Kehilangan semangat
Kebutuhan terbesar – Akal sehat
Perasaan yang paing keji – Tidak rela melihat keberhasilan orang lain
Hadiah terbaik – Memberi maaf
Saat yang terbesar – Kematian
Pengetahuan termulia – Tuhan
Hal yang paling luhur di dunia – Cinta kasih
Ketika aku mohon kepada Allah kekuatan
Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat
Ketika aku mohon kepada Allah kebijaksanaan
Allah memberiku masalah untuk dipecahkan
Ketika aku mohon kepada Allah kesejahteraan
Allah memberi kepada aku akal untuk berfikir
Ketika aku mohon kepada Allah keberanian
Allah memberiku kondisi bahaya untuk aku atasi
Ketika aku memohon kepada Allah sebuah cinta
Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk ku tolong
Dan ketika aku memohon kepada Allah bantuan
Allah memberiku kesempatan
Aku tidak pernah menerima apa yang ku minta
Tapi aku menerima apa yang aku butuhkan
Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat
Ketika aku mohon kepada Allah kebijaksanaan
Allah memberiku masalah untuk dipecahkan
Ketika aku mohon kepada Allah kesejahteraan
Allah memberi kepada aku akal untuk berfikir
Ketika aku mohon kepada Allah keberanian
Allah memberiku kondisi bahaya untuk aku atasi
Ketika aku memohon kepada Allah sebuah cinta
Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk ku tolong
Dan ketika aku memohon kepada Allah bantuan
Allah memberiku kesempatan
Aku tidak pernah menerima apa yang ku minta
Tapi aku menerima apa yang aku butuhkan
Jakarta-Cuap-cuap-ah
Mungkin orang banyak kenal dengan lawang sewu setelah acara yang di bawakan oleh Hari Panca. Sebenarnya apa sih entu yang namanya lawang sewu. Apa bener entu lawang jumlahnya sewu. Perlu team auditnih untuk menghitung jumlah ntu lawang he. he.. he…
Rupanya Lawang Sewu sebenarnya adalah gedung tua yang dulunya adalah kantor jawatan kereta api.
Menurut ibu Kustini penjaga dari Lawang Sewu, sebenarnya Lawang Sewu tidak seseram yang di beritakan di televisi. Karena semenjak dari awal ibu kustini bekerja menjaga gedung Lawang Sewu nggak ada tuh kejadian-kejadian yang seperti di citrakan oleh televisi. Juga kalau ada kabar tentang bahwa di Lawang Sewu ada tempat pembantaian orang itu juga tidak benar.
Dalam perbincangan itu ibu Kustini juga menyayangkan kurang terawatnya gedung Lawang Sewu. Padahal Lawang Sewu adalah peninggalan sejarah. Tentang biaya sebenarnya bukan masalah karena Lawang Sewu juga menghasilkan dengan banyaknya perusahaan pertelevisian dan perusahaan Film yang menyewa gedung ini untuk tempat Syuting. Salah satunya adalah Filem Ayat ayat Cinta yang Novelnya laris manis.
Gereja Bledung
Sayangnya aku tidak bisa masuk gereja Bledung karena pada saat bersamaan gereja itu sedang dipakai untuk ibadah. Walaupun teman – teman masih ada juga yang nekat untuk masuk.
Kuil Gang Lombok
Sebenarnya aku lupa dengan nama kuil ini, tapi yang pasti di gang ini terkenal dengan lumpianya. Didekat kuilini ada tersandar replika kapal. Konon kabarnya kapal ini adalah kapal dari laksamana Sam Pho Kong.
Kuil Sam Pho Kong
Didalam Kuil Sam Pho Kong ini kami banyak berfoto, karena di kuil ini terdapat patung Laksamana Sam Pho Kong dan bangunan yang mirip dengan bangunan yang ada di lapangan Tianamen.
Kuil Sam Pho Kong merupakan akhir dari cerita pertama karena setelah dai kuil itu kami langsung menuju Kota Kudus. Atau yang lebih dikenal Kota kretek. Karena kota ini mayoritas penduduknya bermata pencarian sebagai buruh pabrik rokok.
Hotel Gripta adalah tempat persinggahan pertama kami di Kota Wali ini. Setelah mandi, kami langsung pergi lagi menuju Masjid Kudus.
Masjid Sunan Muria
Kebetulan pada saat kita di Masjid Kudus, sedang berlangsung acara penggantian kain kelambu Kuburan Sunan Muria. So Pasti Masjid ini ramai oleh para pengunjug yang ingin membaca doa di depan kuburan Sunan Muria.
Sehabis baca doa di depan kuburan Sunan Muria dan juga foto foto kami menuju soto Pak Denuh. Aku gak ceritakan deh banyak banyak tentang makan di warung Soto Pak Denuh karena Cuma bikin ngiler aja. Juga takutnya di omelin oleh Pak Bondan Winarno karena itu udah bagian Pak Bonda Winarno. Tapi yang jelas mak nyos.
Nah warung soto Pak Denuh merupakan akhir dari jalan jalan ini. Sebab besok adalah waktu kami kunjungan ke pabrik rokok Djarum .
Pabrik Djarum
Pukul lima pagi kami sudah harus bangun karena jam 6 pagi kita harus jalan untuk kunjungan ke Pabrik.
Hal yang terbaru aku dari pabrik rokok adalah bahwa didalam pembuatannya terutama di pabrik rokok Djarum adalah istilah SKT dan SKM dimana kepanjangan dari SKT adalah Sigaret Kretek Tanggan atau rokok yang dibuat dengan tenaga tanggan dan SKM adalah kepanjangan dari Sigaret Kretek Mesin atau rokok yang diproduksi dengan bantuan mesin .
Diawal kunjugan kami dipabrik Djarum kami dipandu oleh Pak Teguh Waspada Humas dari PT.Djarum.
Oleh Pak Teguh kami dibawa ke Pabrik dengan pengolahan tangan atau istilahnya SKT ( Sigaret Kretek Tangan). Di pabrik ini pembuatan rokok tidak menggunakan mesin. Hasil rokok ini antara lain Djarum Cokelat, Djarum 76 Dll.
Didalam pabrik yang memproduksi Djarum Cokelat ini kami menemui banyak karyawan yang mayoritas adalah perempuan.
”Itu adalah seleksi alam ” ucap pak teguh menanggapi pertanyaan kami kenapa mayorita karyawan di SKT ini wanita. Aku pikir ini hasil dari emansipasi, rupanya bukan.
Setelah puas dengan coba membuat rokok sendiri di SKT ini, kami langsung dibawa pak Teguh Waspada ke Pabrik SKM (Sigaret Kretek Mesin).
Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan SKT yang banyak karyawannya, di Pabrik SKM ini hampir semua produksi rokok ini dikerjakan oleh mesin yang full Computerize canggih dengan layar sentuh atau touch Screen.
Selain mencari keuntungan dengan memproduksi rokok, pabrik rokok Djarum juga mempunyai program sosial yang dinamakan Djarum Bakti Lingkungan.
Didalam Program Djarum Bakti Lingkungan dikembangkan pembibitan tanaman untuk program penghijauan. Diantara pembibitan tanaman itu terdapat bibit tanaman langka dan juga bibit tanaman berbuah seperti mangga, cokelat, durian, rambutan, dukuh dll.
Yang membanggakan juga dalam Djarum Bakti Lingkungan PT.Djarum yang tergabung dalam Konsorsium Gunung Muria mempunyai program menghijaukan lagi gunung Muria.
Menyadari bahwa hasil produksi menghasilkan limbah, PT.Djarum melalui IPAL (instalasi Pengolahan Limbah).
IPAL ini megolah limbah air dari proses pelunakan cengkeh dan air dari proses pencucian mesin. Untuk mengetes apakah limbah air ini udah aman maka PT.Djarum menaruh Ikan Emas Didalam air hasil olah IPAL. Jika didalam air itu ikan bisa hidup berati limbah air itu sudah aman untuk makhluk hidup.
about
Hello my name is NULL. Welsome to Cuap-cuap ah and you're welcome to stay as long as you want.
categories
- IPTEK (1)
- Keagamaan (1)
- Pemuda (1)
- Percaya gak percaya (1)
- Sosial budaya & Politik (9)
- Uncategorized (2)
meta
calendar
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Feb | ||||||
| 1 | 2 | 3 | ||||
| 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |
| 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 |
| 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 |
| 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 |
Wordpress theme by Wordpress Themes & made free by Internet Marketing Center
Edit here in the footer.php
